Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Pagi itu adalah pagi yang sederhana. Matahari memamerkan kilau merahnya di arah Timur dan udara bergerak perlahan mengisi ruang-ruang kosong. Rumput di taman masih basah oleh embun. Sekelompok burung gereja malu-malu hendak bercerita. Hanya terbang kesana kemari menghibur jiwa yang syahdu. Seekor tupai menampakkan diri di salah satu dahan pohon kenari. Bergerak tak tentu terpatah-patah lalu melompat ke dahan pohon yang lain, menghilang di antara rimbun dedaunan kemudian muncul di dahan yang lain. Sekelompok katak yang tertidur dalam genangan air tak mau kalah. Keheningan berganti dengan suara lirih orkestra katak.
Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Tidur panjang yang melelahkan hingga bantalnya basah oleh air mata keputusasaan dan selimutnya lembab oleh keringat kepedihan. Matanya yang kian mengecil dikelilingi hitam, menatap tak tentu dalam remang. Air mukanya tampak suram bagai lukisan kesepian. Badannya bergetar tak berirama, menyebarkan aroma khas keterpurukan. Kakinya menapak lantai dengan penuh ketidakajegan. Dengan tenaga yang tersisa diangkatnya raga itu menuju terang. Kedua tangan lunglainya menyingkirkan para penghalang sinar kehidupan hingga berjuta-juta cahaya melesat masuk menembus raganya. Matanya yang terpaksa memejam, baru saja menangkap kilauan harapan. Hidungnya mencium aroma perubahan dan pikirannya ingin segera bercumbu dengan impian.
Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Satu per satu ia tanggalkan pakaian usang yang melekat di raganya. Pakaian usang yang penuh noda lama. masa lalu yang penuh semangat, kebahagiaan sekaligus luka. Kenangan yang membimbingnya pada keterpurukan namun perlahan menggiringnya pada sebuah kebangkitan. masa lalu yang harus dipendamnya dalam-dalam namun tidak juga layak untuk dimusnahkan. Masa lalu yang menyuratinya dengan kenangan berarti hingga membuat hasratnya haus akan makna janji. Masa lalu yang memaksanya untuk mengukir sebuah titik balik pada sketsa kehidupannya dengan tinta keyakinan.
Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Ia dihadapkan pada sebuah cermin. Memandang seksama tiap kerutan di wajahnya. Meraba tiap luka di dadanya. Memaknai setiap lekuk tubuhnya. Setiap inci ketidaksempurnaan merupakan harapan menuju satu kesempurnaan. Tanpa ia sadari, tiap cambuk luka menjadi bekal kekuatan yang tak terduga. Kegelisahan tak bisa lagi menyerap energi kehidupannya. Kebimbangan tidak lagi berhak untuk memporakporandakan berjuta impiannya. Perlahan tapi pasti, jiwa itu akan mengambil alih seluruh saraf kehidupannya.
Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Ia melangkah keluar dengan pasti dari tempatnya bersembunyi. Memaksa paru-parunya memompa udara pagi yang dihirupnya dalam-dalam. Hari ini adalah awal dari pencapaian sebuah harapan yang sempat tercap oleh semu. kini ia makin nikmat bermimpi, mungkin berobsesi, ia tak peduli.
Satu jiwa telah terjaga dari tidur panjangnya. Pandangannya telah sampai pada horizon pantai. Didayungnya perahu yang penuh dengan perbekalan jiwa, mencapai yang kasat oleh mata. Mengarungi samudera mimpi, menjelajah beribu pulau yang tak nampak. Jiwa itu, telah terjaga dari tidur panjangnya.
Minggu, 15 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar